Social Icons

Pages

Minggu, 16 Juni 2013

SELEKSI INDUK



                 Beberapa persyaratan untuk mendapatkan induk yang baik :
Ukuran induk betina diatas 40 gr dan jantan diatas 50 gr, Kantung pengeraman penuh telur yang sudah berwarna abu‐abu, Organ tubuh lengkap / tidak cacat, Kulit bersih / bebas dari kotoran maupun organisme yang bersifat patogen, Umur induk antara 8‐20 bulan, Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya, belum dipijahkan lebih dari 7 kali, Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat
Dalam pengamatan produksi di lapangan, hasil kegiatan pemijahan biasanya dapat dievaluasi setelah 21 hari, dari mulai induk disatukan dalam wadah pemijahan. Seleksi induk matang telur dilakukan dengan mengeringkan kolam pemijahan, kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Pagi hari sebaiknya kolam sudah kering dan induk tertampung semua dalam kobakan, pada kondisi ini air sebaiknya terus mengalir. Oleh karena itu sistem kemiringan kolam, kemalir dan kobakan harus diterapkan dengan baik, sehingga induk terjaga dari kematian. Induk‐induk dipanen secara hati‐hati dan dikumpulkan di hapa atau bak penampungan yang sudah disiapkan sebelumnya dan dilengkapi dengan sistem air mengalir. Setelah kondisi induk disegarkan beberapa saat, maka proses seleksi/pemilihan induk matang telur dapat segera dilakukan.
Berdasarkan pengamatan dilapangan tingkat kematangan telur induk dapat bervariasi dari mulai oranye, kuning hingga colat keabu‐abuan. Induk yang siap ditetaskan adalah yang berwarna coklat keabu‐abuan, induk ini secara hati‐hati harus segera dipindahkan ke bak penetasan yang telah disiapkan sebelumnya (air yang digunakan untuk penetasan mengandung kadar garam kurang lebih 5 ppt). Untuk induk‐induk dengan warna telur, oranye dan kuning dipisahkan pada kolam atau bak Khusus untuk dimatangkan lebih lanjut. Sedangkan induk jantan dapat dipelihara kembali di kolam pemulihan/pemeliharaan induk dan dipisah dari induk betina.
Dalam pengelolaan suatu unit usaha pembenihan udang galah, jumlah induk yang dikelola sangat menentukan bagi keberhasilan suatu perencanaan produksi. Setelah target produksi juvenil (post larva) ditetapkan sesuai dengan beberapa pertimbangan ekonomis, maka mulailah dilakukan perhitungan secara mundur berapa jumlah induk yang harus dikelola, agar target produksi tersebut dapat dicapai.
Terkait dengan Induk dan pengelolaanya maka beberapa hal yang perlu dicatat dan diperhatikan dalam perencanaan produksi antara lain sebagai berikut:
  1. Jumlah telur yang dihasilkan oleh betina (fecundity ). Sangat terkait dengan ukuran induk yang digunakan, dan tingkat pemeliharaan yang dilakukan terkait pengelolaan air dan pakan yang diberikan,
  2. Data hubungan antara bobot induk matang telur terkait dengan jumlah larva/naupli yang dihasilkan. Data ini mencerminkan kualitas telur yang dihasilkan,
  3. Data jumlah prosentase jumlah induk yang bertelur dan matang telur dihubungkan jumlah betina seluruhnya,
  4. Jumlah jantan dan betina yang digunakan perbandingannya sesuai.
Perbandingan jantan dan betina dalam kegiatan pemijahan tergantung dari tujuannya. Perbandingan jantan : betina (1:3) adalah sangat umum dilakukan untuk suatu kegiatan produksi benih sebar untuk keperluan pembesaran. Adapun untuk tujuan perbanyakan induk ‐ induk alam umumnya dilakukan dengan perbandingan (1:1).
PEMIJAHAN DAN PEMELIHARAAN INDUK
  1. A.    Pemijahan
Pada prinsipnya teknik pemijahan yang banyak diterapkan dalam pembenihan udang galah adalah bersifat alamiah seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Walaupun proses perkawinan dipengaruhi proses moulting, yang mana terkait dengan kelenjar hormon yang ada pada tangkai mata, namun dalam proses pemijahan, tidak lazim dilakukan pemotongan tangkai mata (ablasi) untuk merangsang terjadinya proses tersebut. Sebelum terjadi pemijahan udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult). Pada kondisi ini udang lemah, setelah pulih kembali terjadilah pemijahan. Pemijahan dapat dilakukan di kolam tanah, akuarium, bak beton atau fibreglass dengan padat tebar 4 ekor/m2. Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Selama proses pemijahan induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% per hari dari berat biomass dengan frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari, lama pemijahan 21 hari. Dalam usaha budidaya, benih merupakan faktor penentu dan mutlak harus disediakan. Untuk memenuhi pangsa pasar di luar maupun dalam negeri, diperlukan kesinambungan produksi dan ketersediaan suplai benih yang memenuhi syarat baik kuantitas maupun kualitas. Benih udang galah dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu mengumpulkan benih di alam dan juga dengan cara memproduksi benih di balai‐balai pembenihan.
  1. B.     Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 4 ekor/m2, diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% dari berat tubuh. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik di kolam maupun di bak beton dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran dengan kedalaman 80‐100 cm.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates