Social Icons

Pages

Minggu, 16 Juni 2013

Teknik Pembesaran Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de man)


                  Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de man) adalah komoditas perikanan air tawar yang merupakan salah satu kekayaan perairan Indonesia. Selain mempunyai ukuran terbesar dibandingkan dengan udang air tawar lainnya juga mempunyai nilai ekonomis penting karena sangat digemari konsumen baik didalam maupun diluar negeri terutama di Jepang dan beberapa negara Eropa. Oleh karena itu udang galah menjadi salah satu andalan komoditas ekspor.
PEMBESARAN
Sarana dan Fasilitas
Jenis tanah yang cocok untuk pemeliharaan udang galah adalah tanah yang sedikit berlumpur dan tidak porous. Luas kolam yang digunakan dapat bervariasi antara 0,2 – 1,0 Ha, sebaiknya berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman kolam antara 0,5 – 1,0 m. Dasar kolam harus rata dan dibuat kemalir ( caren ) secara diagonal dari saluran pemasukan sampai kesaluran pembuangan, hal ini untuk memudahkan pemanenan. Kualitas air yang masuk ke kolam harus baik dan bebas dari polusi.

Pengelolaan Kolam
Sebelum ditanami udang galah kolam sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu secara baik dengan cara :

  • Kolam dikeringkan terlebih dahulu kemudian dicangkul untuk menggemburkan dan dibiarkan selama 3 – 5 hari.
  • Untuk memberantas hama dan penyakit dasar kolam diberi kapur dengan dosis 50 – 100 gr/m2, kapur dicampur dengan air kemudian disebarkan secara merata keseluruh permukaan dasar kolam dan dibiarkan selama 2 – 3 hari.
  • Kolam diisi air sampai mencapai kedalaman yang sudah ditentukan kemudian diberi pupuk organik berupa kotoran ayam sebanyak 500 grlm2 maksudnya untuk menumbuhkan pakan alami.
Teknik pemeliharaan
Benih udang yang siap dipelihara di kolam adalah benih udang stadia juvenil atau tokolan. Pemeliharaannya dapat dilakukan dengan dua cara :

  • Monokultur
    Pemeliharaan secara monokultur adalah pemeliharaan udang di kolam tanpa dicampur dengan ikan lain. Padat penebaran sebanyak 5 – 10 ekor/m2 bila pemberian pakan tidak intensif dan 20 – 30 ekor/m2 dengan pemberian pakan secara intensif.
  • Polikultur
    Pemeliharaan secara polikultur adalah pemeliharaan udang di kolam disatukan dengan ikan lainnya, adapun yang dapat dibudidayakan dengan udang adalah ikan mola, ikan tawes, ikan nilem, dan ikan big head. Padat penebaran udang galah sebanyak 1 – 5 ekor/m2 sedangkan padat penebaran ikan 5 – 10 ekor/m2 ukuran 5 – 8 cm.
Selama pemeliharaan dapat dilakukan pemupukan susulan setiap 2 – 3 minggu berupa urea 3 – 5 kg dan TSP 5 – 10 kg /Ha kolam.
Pemberian Pakan
Selain makanan alami selama pemeliharaan udang galah perlu diberikan pakan tambahan berupa pelet udang dengan kadar protein 25 – 30% karena makanan alami yang tersedia tergantung pada tingkat kesuburan perairan kolam.

Pada pemeliharaan secara monokultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 20% menurun sampai 5% dari berat badan total populasi, dengan frekuensi pemberian 4 – 5 kali sehari, sedangkan pada pemeliharaan secara polikultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 6% menurun sampai 3% dari berat badan total populasi dengan frekuensi pemberian 4 – 5 kali sehari.
Pemanenan
Pemanenan udang galah dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

  • Panen Total
    Panen Total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam secara total sehingga produksi total dapat segera diketahui, kerugian sistem ini adalah udang yang masih kecil ikut dipanen serta membuang air yang telah kaya dengan organisme dan mineral.
  • Panen Selektif
    Panen selektif diiakukan dengan menggunakan jaring tanpa harus mengeringkan kolam, yang tertangkap hanya udang akuran tertentu saja, pemanenan selanjutnya tergantung kepada tingkat pertumbuhan udang. Kerugian sistem ini adalah banyak membutuhkan tenaga dan bila ada ikan predator tidak dapat dibersihkan dari kolam.
Predator dan Penyakit
  • Predator
    Predator pada pemeliharaan udang galah di kolam adalah beberapa jenis ikan seperti catfish lele lokal) dan Snakehead, burung dan ular. Kepiting merupakan pengganggu juga kerena hewan tersebut melubangi pematang kolam. Untuk mencegah masuknya hewan predator, pada saluran pemasukan air dipasang saringan dan disekeliling pematang dipasang net setinggi 60 cm.
  • Penyakit
    Penyakit yang banyak menyerang udang galah adalah ” Black spot ” yaitu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri dan kemudian diikuti oleh timbulnya jamur, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian dan menurunnya mutu udang. Untuk pencegahan penyakit yang diakibatkan oleh bakteri ini digunakan obat antibakterial yang diberikan secara oral melalui pakan.
Kualitas Air
Timbulnya penyakit pada udang biasanya disebabkan oleh kualitas air pada kolam kurang baik. Hal ini biasanya diakibatkan oleh padat penebaran yang terlalu baryak, rendahnya kandungan oksigen, pengaruh suhu serta tingginya derajat keasaman (pH) sehingga dapat menimbulkan banyak kematian.

Air yang dipakai dalam pembesaran udang galah di kolam sebaiknya bebas dari polusi dengan kandungan oksigen lebih dari 7 mg/l, suhu optimum 27 – 30 °C, derajat keasaman (pH) 7,0 – 8,5 dan kesadahan total antara 40 – 150 mg/l.


http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/30/teknik-pembesaran-udang-galah-macrobrachium-rosenbergii-de-man/

SAPONIN SEBAGAI RACUN ORGANIK UNTUK TAMBAK UDANG

1. PENDAHULUAN

Saponin adalah glikosida, yaitu metabolit sekunder yang banyak terdapat di alam, terdiri dari gugus gula yang berikatan dengan aglikon atau sapogenin. Senyawa ini bersifat racun bagi binatang berdarah dingin. Oleh karena itu dapat digunakan untuk pembasmi hama tertentu. Dengan berkembangnya tambak udang di Indonesia, saponin biji teh menunjukan peranannya yang cukup penting sebagai pembasmi hama udang. Kandungan sapotin pada biji the adalah 20 % (crude).

2. SIFAT-SIFAT SAPONIN
  1. Berasa pahit.
  2. Berbusa dalam air.
  3. Mempunyai sifat detergen yang baik.
  4. Beracun bagi binatang berdarah dingin.
  5. Mempunyai aktivitas haemolisis, merusak sel darah merah.
  6. Tidak beracun bagi binatang berdarah panas.
  7. Mempunyai sifat anti eksudatif.
  8. Mempunyai sifat anti inflamatori
  9. Mempunyai aplikasi yang baik dalam preparasi film fotografi.
3. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI
Berdasarkan sifat-sifat tersebut, senyawa saponin mempunyai kegunaan yang sangat luas, antara lain:
  1. Pembasmi hama udang.
  2. Sebagai detergen pada industri tekstil.
  3. Pembentuk busa pada alat pemadam kebakaran.
  4. Pembentuk busa pada sampo.
  5. Dalam industri farmasi.
  6. Dalam fotografi.
SUMBER
Brosur Saponin untuk Pembasmi Hama Udang, Pusat Penelitian Perkebunan Gambung, Bandung, 1990. 

Pengapuran dan Prinsip dalam Aquaculture pada Udang


     Pengaruh menguntungkan dari pengapuran pada ikan / udang / produksi udang di pertambakan maupun kolam perairan basa dan asam telah dikaitkan dengan beberapa efek pada kualitas air. Dengan demikian Pengapuran meningkatkan pH lumpur bawah dan meningkatkan ketersediaan fosfor ditambahkan dengan pupuk. Pengapuran meningkatkan produksi bentik pada pemupukan kolam, tampaknya melalui ketersediaan hara yang  meningkat dan juga pengapuran menguntungkan dalam meningkat aktivitas mikroba dalam lumpur melalui peningkatan pH.Keuntungan dari pengapuran adalah:
  • Untuk membunuh mikroorganisme kebanyakan, terutama parasit, karena reaksi kaustiknya.
  • Untuk menaikkan pH air yang  asam ke nilai netral atau sedikit basa.
  • Untuk meningkatkan cadangan alkali dalam air dan lumpur yang mencegah perubahan pH yang ekstrim.
  • Untuk meningkatkan produktivitas biologi, karena meningkatkan pemecahan zat organik oleh bakteri,  menciptakan peningkatan oksigen dan cadangan karbon.
  • Untuk mempercepat pemecahan atau pelarutan bahan organik.
  • Untuk mengurangi kebutuhan oksigen biologis (BOD).
  • Untuk meningkatkan penetrasi cahaya.
  • Untuk meningkatkan nitrifikasi karena kebutuhan kalsium dengan nitrifikasiorganisme.
  • Untuk menetralisir aksi berbahaya dari zat tertentu seperti sulfida dan asam.
  • Untuk secara tidak langsung meningkatkan tekstur tanah dasar di atas materi organik.
    Pengapuran meningkatkan alkalinitas air sehingga meningkatkan ketersediaan karbondioksida untuk fotosintesis. Alkalinitas tinggi setelah pengapuran juga buffer air terhadap perubahan drastic pH umum dalam kolam eutrofik dengan air lunak. PH pagi akan lebih tinggi setelah pengapuran, namun, karena penyangga oleh bikarbonat,Sore nilai pH tidak akan setinggi sebelum aplikasi kapur. Pengapuran meningkatkanTotal hardness dengan menambahkan alkali (kalsium dan magnesium - PearlSpar-Aqua). Dengan perlakuan kapur, air dapat dibersihkan dari noda humat yang bersal dari vegetatif, yang membatasi penetrasi cahaya. Efek bersih dari perubahan pengapuran kualitas air berikut ini untuk meningkatkan produktivitas fitoplankton, yang pada gilirannya, menyebabkan peningkatanikan / udang / produksi udang.
    Sebenarnya, alkalinitas total adalah indikator yang lebih handal dari kebutuhan untuk pengapuran dari total hardness karena beberapa kolam mungkin memiliki total kesadahan rendah dan kebasaan tinggi atau sebaliknya. Total Kesadahan lebih mudah untuk mengukur, khususnya di lapangan, dari pada alkalinitas.
    Banyak sekali, kebutuhan kapur yang pertama kali diusulkan pada saat pemupukan anorganik gagal menghasilkan pertumbuhan plankton yang memadai. Namun demikian, total hardness atau analisis alkalinitas harus dibuat dan kemungkinan alasan lain untuk kegagalan pupuk untuk menghasilkan berkembang plankton  ditentukan sebelum menggunakan kapur.

Jenis Bahan Pengapuran
    Sejumlah zat yang berbeda digunakan sebagai bahan pengapuran, bahan kimia yang digunakan untuk pengapuran tanah dan air adalah oksida, hidroksida dan kalsium silikat atau magnesium, karena ini yang mampu mengurangi keasaman. Unsur dari jenis kapur meliputi:

Kalsium (CaCO3) dan Dolomit (Kalsium-Magnesium Karbonat) [CaMg (CO3) 2]

    Karbonat terjadi secara luas di alam. Di antara bentuk-bentuk umum yang dapat dimanfaatkan sebagai zat pengapuran yang kapur calcitic yang merupakan kalsium karbonat murni dan kapur dolomit yang merupakan kalsium karbonat-magnesium dengan proporsi yang berbeda-beda kalsium dan magnesiumnya. Kalsium karbonat komersial dikenal sebagai kapur pertanian. Karbonat adalah reaktif setidaknya dari tiga zat pengapuran. Sekarang, terutama dianjurkan untuk menggunakan dolomit [CaMg (CO3) 2] selama periode kultur. 

Kalsium Oksida (CaO)

    Ini adalah satu-satunya senyawa yang kapur istilah dapat diterapkan dengan benar. Kalsiumoksida adalah dikenal sebagai kapur unsulated, kapur terbakar dan kapur cepat. Sekarang diproduksi oleh kapur calcitic dipanggang di tungku. Oksida kalsium dan kaustik higroskopis dan sering dianjurkan untuk menerapkan kapur ini untuk tanah asam saja. 

Kalsium Hidroksida (Ca (OH)2)
    Kalsium hidroksida dikenal sebagai kapur dipipihkan, kapur terhidrasi atau kapur pembangun. Sekarang disiapkan oleh hydrating kalsium oksida. Semuanya adalah serbuk putih keabu-abuan. Bahan pengapuran yang berbeda dalam kemampuan untuk menetralkan asam.CaCO3 Murni adalah ukuran standar bahan pengapuran terhadap yang lainnya. Nilai penetralan CaCO3 adalah 100 persen dan untuk sampel murni dari bahan lain adalah sebagai berikut: CaMg (CO3)2, 109 persen;Ca (OH)2, 136 persen, dan CaO, 179 persen.
    Tapi dolomit ('Neosparks PearlSpar-Aqua) adalah contoh yang baik untuk didiskusikan. Karbondioksida dalam air bereaksi dengan dolomit sebagai berikut:

CaMg (CO3)2 + H2O + CO2 «Ca2+ + Mg2+ + 2HCO3- + CO32-
    Reaksi ini menunjukkan dolomit yang akan bersaing dengan fitoplankton untuk CO2 dan mungkin mengurangi tingkat fotosintesis. Selain menghapus semua CO2 bebas awalnya di air, CaCO3 bereaksi dengan CO2 dilepaskan dari dekomposisi bahan organik dan dengan CO2 yang berdifusi ke dalam air. Hasil akhirnya adalah bahwa beberapa hari setelah pengapuran, kesetimbangan konsentrasi CO2 lebih tinggi dari sebelumnya. Ini terjadi karena dolomit mengikat CO2 yang akan dinyatakan telah hilang ke atmosfer. Dolomit akan memberikan jumlah kontribusi setara kation dan anion sehingga peningkatan kesadahan total dan alkalinitas pengapuran berikut total akan sama.
    Mungkin menyimpulkan bahwa jumlah dolomit yang diperlukan untuk meningkatkan kesadahan total kolam ke tingkat tertentu bisa langsung dihitung. Menggunakan logika tersebut, jumlahd olomit diperlukan untuk meningkatkan kesadahan total dari kolam 1 hektar x 1 meter yang mendalam dari 5 sampai 20 mg / liter akan menjadi 15 mg untuk setiap liter air atau 15 gram untuk setiap meter kubik. Karena kolam berisi 10.000 m3, total 150 kg dolomit akan diperlukan.
Kapur memberikan dua tujuan - Koreksi pH air dan pH tanah dasar. Ketika koreksi pH air adalah tujuannya, kapur dapat dibuat menjadi bubur dan baik ditambahkan ke air masuk atau diterapkan di depan aerator. Jika pH koreksi dasar tambak adalah kapur objektif perlu bertebaran seperti pakan. Perhatian perlu dilaksanakan saat memilih kapur. Kapur pertanian yang paling tersedia di negara kita adalah granular tidak bubuk dan memiliki jumlah yang berlebihan dari kelembaban. Hal ini sangat merekomendasikan bahwa kapur harus mampu melewati 100 persen melalui mesh 60.
    Karena kalsium merupakan bagian utama dari tulang dan exuvia ikan dan udang / udang masing membutuhkan tingkat asupan kalsium tinggi, terutama setelah molting pada udang / udang. Persyaratan ini dipenuhi terutama oleh menyerap Ca tersedia dalam air laut.Kandungan kalsium dari kutikula selama tahap inter-moult adalah antara 12% dan19% pada udang dan kehilangan sekitar 23% dari total kalsium tubuh dengan molting. Namun,jumlah mineral yang hilang dalam proses molting lebih tinggi dari ini karena exuvia termasuk mineral lainnya dalam bentuk kalsium dan garam magnesium.
Teknik Pengapuran:
  1. Untuk memperbaiki kondisi dasar tambak selama persiapan kolam pembesaran. Setelah melakukan budidaya, tanah dasar dapat menjadi sangat tercemar dan asam karena akumulasi humus zat organik. Pengapuran bahan yang dapat digunakan untuk menetralkan asam organik dibebaskan dari humus substansi dan meningkatkan nilai pH tanah dasar dan untuk meningkatkan degradasizat organik, sehingga zat organik humus dapat kembali digunakan sebagai pupuk selama budidaya berikutnya.
  2. Bahan pengapuran juga memiliki properti desinfektan dan karena itu berfungsi sebagai disinfektan bila diterapkan dalam persiapan kolam pembesaran.
  3. Selama periode budidaya, saat pH air tambak turun di bawah kisaran normal untuk udang budidaya (di bawah pH 7,2), bahan pengapuran dapat digunakan untuk meningkatkan nilai pH ke tingkat optimal. Dosis didasarkan pada pH tanah dasar dan jenis bahan kapur yang digunakan.
Dolomit Khusus Neosparks'untuk Budidaya-PearlSpar-Aqua

    Pearl Spar-Aqua mengurangi keasaman tanah dan air di kolam Budidaya, menstabilkan fitoplankton, meminimalkan fluktuasi pH dengan menstabilkan alkalinitas, sehingga meningkatkan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang, udang dan ikan.PearlSpar-Aqua mengandung Kalsium Oksida, Oksida Magnesium, Silikon Dioksida,Aluminium Oksida dalam rasio yang tepat bersama dengan Cobalt dan Kalium.
Untuk rincian lengkap silahkan kunjungi - PearlSpar-Aqua dan GeoMix.
(Water Quality Enhancing Formulations – Powders).
Pentingnya Pengapuran Untuk Pengendalian Kualitas Air Di Tambak Udang
    Kegunaan kapur termasuk untuk mengurangi keasaman tanah dan membunuh sebagian besar organisme,terutama parasit, selama persiapan kolam dan mengurangi pH air selamaperiode budaya. Umumnya, pengapuran tidak hanya mengurangi keasaman tanah dan air, yang sangatmempengaruhi pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang, tetapi juga menstabilkan pH air danmempromosikan produktivitas biologi. Seperti pH air adalah salah satu bahan kimia yang paling pentingparameter untuk budidaya udang. Kisaran pH optimum air di tambak udang adalah 7.4-8,5. Hal ini penting untuk menstabilkan pH dalam kisaran ini. Nilai pH dalam airbiasanya terendah di pagi hari dan tertinggi di sore hari. Untuk kualitasair terbaik, fluktuasi pH maksimum tidak boleh melebihi 0,5. Faktor utamayang mempengaruhi variasi pH dalam air adalah alkalinitas.
    Totalalkalinitas didefinisikan sebagai konsentrasi total basis titrable dalam air.Basis utama dalam air adalahIon HCO3- Dan CO3-. Alkalinitas total telahtradisional mengungkapkan sebagai miligram per liter (ppm) dari kalsium karbonat setara(CaCO3). Umumnya, alkalinitas bervariasi dari situs ke situs. Dalam air laut, alkalinitas biasanya lebih tinggi dari 100 ppm, tetapi di daerah air tawar, alkalinitas sering rendah,terutama selama musim hujan. Rendah alkalinitas dalam air tawar atau daerahsalinitas rendahakan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dan molting udang.
    Kapur dapat digunakan untuk mengurangi keasaman dalam air. Dalam hal pH air naik turun secara drastispada siang hari, kapur juga dapat digunakan untuk meningkatkan alkalinitas dalam air untuk menstabilkanpH air. Di daerah, di mana pengaruh air tawar yang lebih, terutama selama hujanmusim, penurunan salinitasair serta alkalinitas. Ketika salinitas menjadi rendah danalkalinitas lebih rendah dari 50 ppm. Nilai pH juga tetes, sehingga moulting dariudang menjadi tertekan dan mortalitas berat terjadi. CaMg (CO3)2 diterapkan setiaphari sampai nilai alkalinitas mencapai 70-90 ppm. PH tidak akan berfluktuasisangat, warna air akan meningkatkan dan udang akan menjadi normal.
    Di sisi lain, di beberapa daerah alkalinitas adalah 90-100 ppm tapi warna air dan pHsangat berfluktuasi sepanjang hari. pengapuran harus diterapkan setiap hari sampainilai pHmenjadi lebih stabil dan tidak bervariasi lebih dari 0,5.
    Karena kalsium merupakan bagian utama dari exuvia, udang membutuhkan tingkatasupan kalsiumtinggi, terutama setelah molting. Persyaratan ini dipenuhi terutama oleh menyerapanCatersedia dalam air laut. Kandungan kalsium dari kutikula selama tahap inter-moult adalahantara 12% dan 19% pada udang dan kehilangan sekitar 23% dari kalsium tubuh totalmolting. Namun, jumlah mineral yang hilang dalam proses molting lebih tinggi dariini karena exuvia meliputi mineral lainnya dalam bentuk kalsium dan garam magnesium.
    Selain itu, air laut memiliki magnesium lebih tinggi dari kandungan kalsium, sementara dipayau konten kalsium lebih tinggi dari magnesium. Magnesium adalah salah satuelemen yang paling penting untuk organisme laut. Peran meliputi pengendaliansistem saraf atau fungsi otot dan merupakan komponen utama dari klorofil.Hal ini dapat diamati setelah 2-3 bulan dari budaya bahwa fitoplankton di air kolammenjadi sangat padat dan nilai Magnesium dalam air berkurang sampai batas tertentudan bisa jatuh ke nol. Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan, molting dan akhirnya tingkat kelangsungan hidupudang. Namun, masalah alkalinitas rendah dan kandungan Mg dapat diselesaikanmelalui penerapan kapur, terutama dolomit. Pengapuranberlebihan, bagaimanapun, akan dapatmerusak karena menurunkan ketersediaan fosfor melalui pengendapanlarut kalsium atau magnesium fosfat.
    Dalam prakteknya, bahan pengapuran tidak senyawa murni dan nilai menetralkan mereka harusditentukan dengan analisis kimia.Kapur Pertanian adalah bahan pengapuran daripilihan untuk kolam ikan. Jika digunakan dalam jumlah yang cukup, Ca (OH)2 atauCaO dapat meninggikanpH air sehingga ikan bisa mati. Jika ikan tidak ada dalam kolam, Ca (OH)2 danCaO dapat digunakan sebagai bahan pengapuran disediakan cukup waktuuntuk pHmenurun ke tingkat yang ditoleransi sebelum ikan ditebar.Pengobatan dengan kapur memiliki beberapa efek yang tidak diinginkan langsungpada kualitas air. Palingbahan pengapuran tidak larut sekaligus dan, karena mengendap melalui airkolom, fosfat bereaksi dengan itu dan hilang dari larutan. The pH naik dan cukupCO2 bebas tidak dapat terjadi di dalam air untuk proses fotosintesis. Namun, dalambeberapa minggu,bahan pengapuran bereaksi dengan lumpur untuk meningkatkan pH lumpur dan meningkatkan ketersediaanpupuk fosfat dan dengan karbon dioksida untuk meningkatkan alkalinitas dan karbondioksida cadangan dan karenanya produksi primer.Metode Aplikasi. Kolam baru terbaik dapat dikapur sebelum awal mengisi. Itukebutuhan kapur tanah dari dasar kolam baru harus ditentukan padasampel, yangmerupakan perwakilan dari dasar tambak. Jumlah yang diperlukan kapuryangkemudian menyebar secara merata di atas dasar tambak kering. Dalam kolam tua,yang mengandung air,Hasil terbaik diperoleh dengan menyebarkan bahan pengapuran di atas permukaankolam seluruh.
Pedoman Untuk Pengapuran SelamaPeriode Budidaya
Status    Kegiatan
  1. Selama bulan pertama budaya ketika tidak ada pertukaran air dan jika pH nilai normal 7,5-7,8 di pagi hari.Dolomit harus dilakukan setiap 2-3 hari dilaju 150-200 kg / ha
  2. .Nilai pH normal 7,5-8,0 dalam pagi dan tidak meningkat lebih dari 0,5 di sore hari, tapi ada perkembangan fitoplankton. Menggunakan dolomit sebesar 200-250 kg / hasetiap 2-3 hari selama siang hari.
  3. Nilai pH di pagi hari lebih rendah dari 7,5. Menggunakan penebaran dolomit sebesar 150kg / ha / hari pengukuran pH pada pagi berikutnya, ulangi pengapuran sekali sehari sampai nilai pH meningkat hingga 7,5.
  4. PH air di pagi hari adalah sekitar 8,tetapi meningkat lebih dari 0,5 di sore (seperti 8,8 atau 9) danwarna air adalah normal.Menggunakan dolomit 200 kg / ha / hari di pagi hari,ulangi aplikasi setiap hari sampai pH tidak bervariasi dan pH air tidak begitu tinggidi pagi hari.
  5. Udang berukuran 1 atau 2 bulan sebelum panen. Air berwarna gelap atauselama tidak ada pertukaran air, air mungkin memiliki gelembung. Nilai pH air pada pagi dan sore hari bervariasi.Menggunakan dolomit sebesar 200 kg / ha / waktu dimalam atau dini hari. Frekuensi pengapuran tergantung pada warna air dan pertukaran air.Disarankan bahwa pengapuran harus dilakukan setiap hari. Namun,tergantung pada warna air kolam dan pH
  6. .Sebelum pertukaran air jika tidak yakin dengan kualitas airnya.Penenbaran dolomit 200 kg / ha untuk mencegahperubahan kualitas air secara tiba-tiba.

http://wahidhasyimi.blogspot.com/2013/03/pengapuran-dan-prinsip-dalam-aquaculture.html

Kemoreseptor pada Udang Galah


               Pada hewan yang hidup di perairan, organ kemoreseptor biasanya digunakan dalam mendeteksi dan menyeleksi makanan yang berada di dalam air. Salah satu hewan yang menggunakan organ kemoreseptornya untuk mencari dan menyeleksi makanannya yaitu udang galah (Macrobrachium rosenbergii). Penggunaan udang ini karena memiliki daya tahan hidup yang tinggi, dan memiliki antenulla yang lengkap dan panjang.
Percobaan ini menggunakan 3 perlakuan yaitu pemotongan antenulla pertama, pemotongan antenulla kedua, dan tanpa pemotongan (sebagai control). Pemotongan antenulla tersebut bertujuan untuk melihat pengaruh dari pemotongan antenulla ke 1, ke 2, dan control terhadap reaksi udang pada pakan berupa pellet yang diberikan. Pellet akan diberikan dibagian tengah akuarium agar pellet dapat menyebar merata di dalam air akuarium sehingga memudahkan udang dalam responnya terhadap pellet tersebut.
Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa adanya pengaruh terhadap pemotongan antenulla pada udang terhadap pakan. Pada reaksi udang mengelilingi pakan, diketahui bahwa pemotongan antenulla ke 1 tidak memberikan respon tetapi saat pemotongan antenulla yang ke 2 udang memberikan respon. Ini dikarenakan antenulla ke 1 udang mempunyai respon yang lebih tinggi dibanding yang kedua, sehingga saat pemotongan antenulla ke 1 udang tidak merespon tetapi sebaliknya ketika pemotongan antenulla ke 2 udang menanggapi respon. Untuk perlakuan kontrol, udang memberikan respon yang sedikit lebih lama dibandingkan dengan pada pemotongan antenulla ke 2. Ini mungkin dikarenakan penangkapan respon mengalami pembagian, antenulla yang ke 1 menanggapi respon pakan dan yang ke 2 menanggapi respon yang lainnya misalnya suhu atau arus air sehingga melakukan proses yang sedikit lebih lama.
Pengamatan respon yang kedua yaitu melihatnya dalam menemukan pakan. Rata-rata udang lebih cepat menemukan pakan ketika antenula ke 1 dipotong dan udang control dibandingkan dengan udang dengan pemotongan antenulla ke 2. 


http://luqmanmaniabgt.blogspot.com/2012/07/laporan-fungsi-kemoreseptor-pada-hewan.html

Mendongkrak Produksi Udang Galah dengan Sirkulasi Air Tertutup



Pendederan udang galah dengan teknologi sistem air tertutup dapat meningkatkan produksi dan bersifat ramah lingkungan karena irit penggunaan air.

Wajah murung Nana Sutisna (33 tahun) tidak bisa disembunyikan saat dijumpai Majalah Sains Indonesia di dekat kolam udang galah miliknya di Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat pekan lalu. Betapa tidak, dari 17.000 udang hatchery yang dimasukkan ke kolamnya hanya tersisa 250 ekor benur saja.
Nana menuding kualitas air dan hewan pemangsa sebagai penyebab tingginya angka kematian benur udang di kolamnya. Faktor lain adalah pergantian musim yang menyebakan munculnya beragam penyakit ikut mempengaruhi.

Menurut Kepala Pusat Pengkajian dan Perkayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr. Aryo Hanggono, frekuensi hujan yang tinggi seperti halnya terjadi pada bulan Desember mengakibatkan turbulensi air. Turbulensi air menyebabkan air besera lumpur dari dasar kolam/tambak terangkat ke atas (up weeling). Lumpur kotor tersebut tentu saja membuat udang stress dan terjadi kematian massal.

“Itulah mengapa pada bulan Desember angka kematian benur udang galah hasil pendederan atau biasa disebut udang tokolan sangat tinggi,” ujar Aryo.
Peneliti senior dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), Gede Swantika mengatakan, masa paling rawan bagi udang galah (Macrobrachium rosenbergii) adalah masa pendederan (nursery). Waktu paling rawan terjadi pada periode post larva hingga menjadi benur, yakni ukuran siap tebar ke kolam atau tambak untuk pembesaran. Pada periode itu, tingkat kematian benur sangat tinggi.
Teknologi Zero Water Discharge/ZWD atau sistem air tertutup yang dikembangkan P3TKP Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB itu merupakan teknologi untuk meminimalisir pengaruh alam dan lingkungan agar angka kematian lebih rendah. “Disinilah peran teknologi sistem air tertutup diharapkan mampu meminimalisir angka kematian,” ujar Gede.

Hasil awal uji coba teknologi ini, menurut Aryo, memang belum memuaskan. Tingkat kematian udang tokolan masih sangat tinggi meski terjadi peningkatan tingkat kehidupan (survivle rate) tokolan dari 1,5 persen menjadi 4,5 persen.
Masih tingginya angka kematian benur, menurut Aryo, diduga karena persoalan genetik. Cara in breeding yang dilakukan akan menghasilkan benih udang yang relatif homogen secara genetik. Minimnya upaya kawin silang atau cross breeding membuat benih yang dihasilkan memiliki daya imunitas rendah sehingga gampang mati.
“Kami akan lakukan karantina terlebih dahulu sebelum benih dilepas ke kolam pendederan. Sehingga yang didederkan hanya benih yang unggul kualitasnya saja. Dari situ baru kita ketahui tingkat efektivitas sistem air tertutup  ini,” ujar Aryo.

Dengan melakukan karantina, nantinya benih ukuran post larva yang tersisa dan siap untuk didederkan hanyalah benih yang kualitas bagus dengan ukuran realtif seragam. Kombinasi benih berkualitas dan sistem tertutup yang dilakukan akan menghasilkan benur udang yang bagus, ujar peneliti senior pada Balitbang  Kelautan dan Perikanan itu.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 03

Makanan dan Kebiasaan Makan pada udang


Kebiasaan Makanan
Pengetahuan tentang pola makan spesies di alam adalah penting untuk pembentukan kebutuhan gizi dan interaksi dengan organisme lain. Setiap organisme dalam mendapatkan sumber makanannya diperoleh dengan cara yang berbeda. Pada krustacea, khususnya udang kebutuhan makanan ini berpengaruh pada siklus molting dan pertumbuhannya. Makanan yang telah digunakan oleh  udang akan mempengaruhi sisa persediaan makanan dan sebaliknya dari makanan yang diambilnya akan mempengaruhi pertumbuhan, kematangan bagi tiap individu serta keberhasilan hidupnya. Kualitas makanan merupakan salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan udang. Dimana kualitas makanan udang dapat diketahui lewat kebiasan makanannya.
Udang merupakan hewan omnivora penghuni dasar termasuk pemakan organisme dasar yang makanan alaminya berupa plankton, cacing, siput, kerang, ikan, moluska, biji-bijian serta tumbuh-tumbuhan. Pada M. Vollenhovenii makanan dan  kebiasaan makannya menunjukkan bahwa plankton merupakan makanan utamanya. Jenis plankton yang biasa dimakan diantaranya adalah Chlorophyta, Euglenophyta, Xantophyta, Chrysophyta, Cladocera, Copepoda, Protozoa, Dinoflagellata dan Diatom. Sebagian jenis serangga dan organisme tak dikenal beserta butiran pasir dan biji-bijian juga ditemukan. Organisme yang tidak dikenal yang mungkin merupakan bagian dari materi detritus juga banyak ditemukan. Udang merupakan pemakan hewan kecil atau bentik. Chlorophyta dan Baciolaryphyta (diatom) menjadi makanan paling dominan dari udang. Namun yang perlu diwaspadai adalah saat keadaan udang cukup lapar mereka bisa menjadi kanibal pada sesamanya, bahkan udang dewasa yang sedang proses ganti cangkang dimakan juga. Maka untuk menghindari kanibalisme ini, pada tempat budidaya udang selalu diberi makanan supaya sifat kanibalismenya dapat dikendalikan.
Beberapa pendapat yang menyatakan bahwa udang dewasa termasuk kedalam kelompok omnivora merupakan suatu hal yang benar adanya. Melihat faktanya bahwa hewan ini hidup dipengaruhi oleh ketersediaan pakan di habitatnya. Udang bisa menyesuaikan diri untuk kelangsungan hidupnya dengan cara memakan baik hewan maupun tumbuhan yang ada di sekitar.
Strategi dan Kebiasaan Cara Memakan
Udang mengambil makanannya dari dasar habitatnya atau dari fauna terkait yang terendam vegetasi pantai di badan air. Udang memiliki pergerakan yang terbatas dalam mencari makanan dan mempunyai sifat dapat menyesuaikan diri terhadap makanan yang tersedia lingkungannya. Udang bersifat nocturnal artinya aktif mencari makan pada malam hari atau apabila intensitas cahaya berkurang. Sedangkan pada siang hari yang cerah lebih banyak pasif,  berbenam diri dalam lumpur, di balik batu, karena udang-udang jenis ini tidak menyukai sinar matahari.
Udang memakan makananya dengan cara menangkapnya kemudian dicerna. M. Rosenbergii yang diberi makan dengan ukuran yang beraneka ragam, menunjukkan hasil bahwa udang dapat menangkap dan mencerna makanan tersebut ke ukuran yang sesuai dengan kapasitas konsumsi mereka. Sehingga disini ukuran makanan tidak menjadi batasan untuk jenis makanannya. Hal lainnya seperti konsistensi, tekstur dan kepadatan dari makanan tersebut dapat mempengaruhi  pilihan dari konsumsi udang.
Makanan yang mengandung senyawa organik, seperti protein, asam amino, dan asam lemak maka udang akan merespon dengan cara mendekati sumber pakan tersebut. Saat mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan kaki jalan yang memiliki capit. Pakan langsung dijepit menggunakan capit kaki jalan, kemudian dimasukkan ke dalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil masuk kedalam kerongkongan (esophagus). Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna secara kimiawi terlebih dahulu oleh maxilliped
di dalam mulut. Sementara mengerat atau mengunyah, kaki lainnya mencari dan memegang makanan lain yang siap dimakan juga.  Kaki udang ini dilengkapi sensor aktif dan sensitif yang mampu mendeteksi makanannya. Bila kita telusur seksama kebiasaan cara memakan udang ini, tidaklah aneh bila dikatakan udang termasuk hewan rakus. Saat masih mengunyah saja capitnya sudah siap sedia untuk memasukkan makanan yang selanjutnya.
Periode makan udang terjadi 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore atau malam hari. Intensitas makan akan mengalami  peningkatan pada ukuran udang yang semakin besar dan dewasa. Intensitas makanan yang ada pada usus udang yang diberi atau memperoleh makan secara aktif menunjukkan isi perut terisi sebanyak tiga per empat hingga setengah penuh, sementara isi perut yang hanya seperempat menunjukkan intensitas makan yang kurang atau tidak cukup.
 Dari isi usus M. vollenhovenii terungkap bahwa, meskipun udang makan berbagai jenis makanan, namun menunjukkan  ganggang sebagai bagian yang mendominasi. Hal ini sesuai pula dengan pernyataan  Lee et al. (1980), Murthy dan Rajagopal (1990), Roy dan Singh (1997), Collins dan Paggi (1998), Albertoni dkk. (2003) dan Sharma dan Subba (2005) yang melaporkan bahwa udang Macrobrachium sp. adalah omnivora dan makanan mereka termasuk alga, detritus, bagian serangga, sebagian tumbuhan dan hewan lainnya. Udang betina dewasa banyak mengkonsumsi ganggang hijau dan filamanteous yang menunjukkan bahwa udang dewasa tidak selalu bottom feeder. Sedangkan pada betina yang belum dewasa banyak ditemukan krustacea pada isi ususnya.
Beberapa contoh makanan udang yang  terdiri dari fitoplankton, zooplankton, hewan bentik  menunjukkan korelasi dengan musim yang sedang berlangsung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis makanan ini tergantung pada musimnya. Pada musim hujan makanan yang dominannya adalah fitoplankton. Begitu sebaliknya, dimana zooplankton mendominasi saat musim kemarau. Kondisi musim ternyata menjadi bagian penting juga yang perlu diketahui yang mempengaruhi kebiasan makan dari udang. Pada musim hujan,  makanannya terkait dengan perubahan mendadak kondisi ekologi lingkungannya. Saat  musim hujan bila diamati isi makanan perut udang lebih lengkap dibandingkan musim kemarau yang isi perutnya kosong. Pada musim hujan intensitas makan udang lebih tinggi. Jenis makanan yang banyak ditemukan yaitu tumbuhan, tetapi pada saat air perairan surut terendah pakan utamanya bergeser ke jenis pakan berupa hewan seperti serangga, cacing dan moluska.
Strategi makan udang dalam memanfaatkan pakan yang tersedia adalah rnemanfaatkan pakan yang berlimpah dan mudah didapat. Hal tersebut berarti udang tersebut mampu rnemanfaatkan potensi makanan, pada kasus yang ada di Waduk Darma udang memanfaatkan serasah dan organisme hewan sebagai makanannya yang belurn termanfaatkan secara optimal oleh komunitas ikan yang ada. Kondisi lain, selama musim pemijahan aktivitas makan pada udang rendah serta frekuensinya menurun.
Penelitian yang dilakukan oleh Wassenberg (1992) menunjukkan bahwa sebelum siklus molting udang cenderung memilih molusca untuk makanannya. Menurut pandangan penulis, hal ini berlandaskan pada kebutuhan protein udang, dimana saat molting kebutuhan energi cukup besar sehingga sebagai persiapan proses tersebut pemilihan jenis makanan tertuju pada molusca yang mengandung protein tinggi untuk sumber energi. Lain halnya pada saat molting, udang lebih memilih krustacea sebagai makanannya, bahkan cenderung untuk tidak makan. Hal ini diduga karena udang terlalu lemah untuk makan. Berpijak pada hal-hal tersebut, terdapat banyak komponen penting yang tidak boleh dilupakan bagi kecukupan makan udang yang harus dipenuhi, karena berkaitan dengan siklus molting, reproduksi, pertumbuhan, yang keseluruhannya penting bagi kelangsungan hidup udang tersebut.
Dari beberapa jurnal penelitian yang telah dikaji ini, dapat disimpulkan bahwa udang jenis M. Vollenhovenii, M. Rosenbergii dan M. Choprai dianggap sebagai euryphagous,
makan setiap jenis makanan dan dapat dengan mudah menemukan
makanannya dalam kondisi yang tidak melimpah sekalipun. Strategi makan udang dengan cara memanfaatkan berbagai jenis pakan yang tersedia, menyebabkan energi yang digunakan untuk mencari makan relatif rendah, sehingga pertumbuhan udang relati lebih cepat. Hal ini mengakibatkan udang dapat memanfaatkan tumbuhan ataupun hewan yang hidup ditempatnya termanfaatkan secara optimal. Kebiasaan makanan dan cara memakan pada udang ini secara alami bergantung pada lingkungan tempat hidupnya.


http://yasintaavrilia29.wordpress.com/2012/03/24/makanan-dan-kebiasaan-makan-pada-udang/

Sarana untuk Budidaya Udang Galah


1. Air Tawar
Air tawar ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau (salinitas 8‐12 ppt),
pemeliharaan larva, pencucian bak dan peralatan pembenihan lain, pemeliharaan induk,
aklimatisasi, dan juga penampungan sementara pascalarva sebelum dipasarkan.
Air tawar ini harus bersih dari endapan lumpur dan kotoran lain, terbebas dari berbagai
pencemar (pestisida, minyak, pelumas, limbah pemukiman/industri, bahan‐bahan lain yang dapat
menurunkan kualitas air), pH 7,5‐8, dan kesadahannya 40‐100 ppm.
Sumber air dapat berasal dari PAM, tetapi karena suplainya tidak selalu teptap, maka
dilakukan penampungan dalam bak, lalu dialirkan melalui pipa‐pipa ke hatchery.
2. Air Laut
Air laut ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau. Air laut harus terbebas
dari berbagai pencemar dan memiliki pH 7,5‐8.
3. Suplai Udara / Aerasi
Aerasi ini dibutuhkan untuk mendistribusikan oksigen, mendistribusikan pakan hidup, dan
juga mendistribusikan pakan buatan menjadi bergerak seperti pakan hidup (karena udang lebih
menyukai pakan hidup/yang bergerak).
Aerasi ini dilakukan secara terus‐menerus selama pemeliharaan dan penetasan kista
artemia. Sumber udara ini dapat berasal dari blower. Udara yang dipompakan blower dialirkan
melalui pipa pralon, lalu dialirkan pada selang‐selang kecil dari plastik untuk disebarkan (ujungnya
diberi batu aerasi agar dihasilkan gelembung udara kecil), lalu batu diletakkan pada dasar bak.
Jumlah aerator yang dibutuhkan tergantung dari volume air yang tersedia.
4. Tenaga Listrik
Listrik ini dibutuhkan untuk peneranagn, menjalankan blower, pompa air, heater, dll. Listrik
dapat berasl dari PLN, tetapi karena listrik dapat terputus maka perlu disediakannya generator
pembangkit listrik.
5. Wadah Penetasan dan Pemeliharaan
Wadah pemijahan yang dapat digunakan antara lain antara lain : kolam tanah, bak beton,
bak serat kaca maupun akuarium. Penggunaan wadah tersebut sangat terkait dengan tingkat
penanganan yang akan diterapkan, sebagai contoh pemijahan induk di akuarium memerlukan
penanganan yang lebih dimana memerlukan sistem aerasi, pergantian air yang rutin bahkan
mungkin pemanas air, sementara jumlah induk yang dipeliharapun terbatas. Oleh karena itu wadah
yang banyak yang dipakai di unit‐unit pembenihan umumnya berupa kolam atau bak beton dengan
luasan yang cukup memadai sesuai jumlah induk yang dikelola. Persyaratan wadah untuk kolam
pemijahan adalah sama seperti halnya wadah pemeliharaan untuk pematangan. Kolam memiliki
pemasukan air dan pintu pengeluaran. Debit air yang masuk ke kolam kurang lebih 0,5 l/detik. Kolam
dilengkapi pula dengan dengan system kemalir dan kobakan yang akan memudahkan pada saat
panen/seleksi.
Persiapan kolam yang perlu dilakukan meliputi, pengeringan, perbaikan dasar, pematang
serta kemalir kolam, dan pengapuran dengan dosis 50 gram/m2. Hal lain yang harus dilakukan adalah
pemasangan shelter/tempat berlindung bagi udang yang sedang berganti kulit. Untuk hal ini dapat
digunakan daun kelapa dan ranting pohon. Kedalaman air di kolam yang ideal untuk pemijahan
antara 80 ‐ 100 cm.
6. Bejana Kultur Makanan Alami
Bejana ini untuk kultur Artemia salina. Bejana ini dilengkapi pula dengan aerator.

PENCEGAHAN PENYAKIT untuk pemeliharaan Udang



Selama periode pemeliharaan larva, sering terjadi serangan penyakit bakterial yang berasal dari laut yakni Vibrio sp. dengan tanda‐tanda stress. Lalu terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat. Untuk mencegahnya, perlu dilakukan chlorinasi media dan pemgeringan bak serta fasilitas lain selama seminggu. Seandainya sudah terjangkit penyakit tersebut pada larva yang dipelihara maka dapat digunakan Furazolidon dengan dosis 10‐15 ppm. Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah. Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit bakterial yangberupa Vibro sp. dengan ditandai semacam stress, Fluorisensi pada larva yang mati dan terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat.
Untuk mencegah terjadinya serangan bakterial perlu adanya “Chlorinisasi” media dan pengeringan fasilitas selama 7 hari, jika sudah terserang pengobatannya menggunakan Furozolidone dengan dosis 11‐13 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.

SELEKSI INDUK



                 Beberapa persyaratan untuk mendapatkan induk yang baik :
Ukuran induk betina diatas 40 gr dan jantan diatas 50 gr, Kantung pengeraman penuh telur yang sudah berwarna abu‐abu, Organ tubuh lengkap / tidak cacat, Kulit bersih / bebas dari kotoran maupun organisme yang bersifat patogen, Umur induk antara 8‐20 bulan, Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya, belum dipijahkan lebih dari 7 kali, Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat
Dalam pengamatan produksi di lapangan, hasil kegiatan pemijahan biasanya dapat dievaluasi setelah 21 hari, dari mulai induk disatukan dalam wadah pemijahan. Seleksi induk matang telur dilakukan dengan mengeringkan kolam pemijahan, kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Pagi hari sebaiknya kolam sudah kering dan induk tertampung semua dalam kobakan, pada kondisi ini air sebaiknya terus mengalir. Oleh karena itu sistem kemiringan kolam, kemalir dan kobakan harus diterapkan dengan baik, sehingga induk terjaga dari kematian. Induk‐induk dipanen secara hati‐hati dan dikumpulkan di hapa atau bak penampungan yang sudah disiapkan sebelumnya dan dilengkapi dengan sistem air mengalir. Setelah kondisi induk disegarkan beberapa saat, maka proses seleksi/pemilihan induk matang telur dapat segera dilakukan.
Berdasarkan pengamatan dilapangan tingkat kematangan telur induk dapat bervariasi dari mulai oranye, kuning hingga colat keabu‐abuan. Induk yang siap ditetaskan adalah yang berwarna coklat keabu‐abuan, induk ini secara hati‐hati harus segera dipindahkan ke bak penetasan yang telah disiapkan sebelumnya (air yang digunakan untuk penetasan mengandung kadar garam kurang lebih 5 ppt). Untuk induk‐induk dengan warna telur, oranye dan kuning dipisahkan pada kolam atau bak Khusus untuk dimatangkan lebih lanjut. Sedangkan induk jantan dapat dipelihara kembali di kolam pemulihan/pemeliharaan induk dan dipisah dari induk betina.
Dalam pengelolaan suatu unit usaha pembenihan udang galah, jumlah induk yang dikelola sangat menentukan bagi keberhasilan suatu perencanaan produksi. Setelah target produksi juvenil (post larva) ditetapkan sesuai dengan beberapa pertimbangan ekonomis, maka mulailah dilakukan perhitungan secara mundur berapa jumlah induk yang harus dikelola, agar target produksi tersebut dapat dicapai.
Terkait dengan Induk dan pengelolaanya maka beberapa hal yang perlu dicatat dan diperhatikan dalam perencanaan produksi antara lain sebagai berikut:
  1. Jumlah telur yang dihasilkan oleh betina (fecundity ). Sangat terkait dengan ukuran induk yang digunakan, dan tingkat pemeliharaan yang dilakukan terkait pengelolaan air dan pakan yang diberikan,
  2. Data hubungan antara bobot induk matang telur terkait dengan jumlah larva/naupli yang dihasilkan. Data ini mencerminkan kualitas telur yang dihasilkan,
  3. Data jumlah prosentase jumlah induk yang bertelur dan matang telur dihubungkan jumlah betina seluruhnya,
  4. Jumlah jantan dan betina yang digunakan perbandingannya sesuai.
Perbandingan jantan dan betina dalam kegiatan pemijahan tergantung dari tujuannya. Perbandingan jantan : betina (1:3) adalah sangat umum dilakukan untuk suatu kegiatan produksi benih sebar untuk keperluan pembesaran. Adapun untuk tujuan perbanyakan induk ‐ induk alam umumnya dilakukan dengan perbandingan (1:1).
PEMIJAHAN DAN PEMELIHARAAN INDUK
  1. A.    Pemijahan
Pada prinsipnya teknik pemijahan yang banyak diterapkan dalam pembenihan udang galah adalah bersifat alamiah seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Walaupun proses perkawinan dipengaruhi proses moulting, yang mana terkait dengan kelenjar hormon yang ada pada tangkai mata, namun dalam proses pemijahan, tidak lazim dilakukan pemotongan tangkai mata (ablasi) untuk merangsang terjadinya proses tersebut. Sebelum terjadi pemijahan udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult). Pada kondisi ini udang lemah, setelah pulih kembali terjadilah pemijahan. Pemijahan dapat dilakukan di kolam tanah, akuarium, bak beton atau fibreglass dengan padat tebar 4 ekor/m2. Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Selama proses pemijahan induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% per hari dari berat biomass dengan frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari, lama pemijahan 21 hari. Dalam usaha budidaya, benih merupakan faktor penentu dan mutlak harus disediakan. Untuk memenuhi pangsa pasar di luar maupun dalam negeri, diperlukan kesinambungan produksi dan ketersediaan suplai benih yang memenuhi syarat baik kuantitas maupun kualitas. Benih udang galah dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu mengumpulkan benih di alam dan juga dengan cara memproduksi benih di balai‐balai pembenihan.
  1. B.     Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 4 ekor/m2, diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% dari berat tubuh. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik di kolam maupun di bak beton dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran dengan kedalaman 80‐100 cm.

Fungsi Organ Pada Udang



            Menurut Bachtiar (2007), lobster air tawar memiliki bagian-bagian tubuh seperti berikut:
1.    Sepasang antena di bagian depan kepala yang berfungsi sebagai alat peraba, perasa, dan pencium lingkungan sekitar. Alat ini juga membantu lobster mencari mangsanya.
2.    Sepasang capit (celiped) yang panjang dan lebar.
3.    Ekor tengah (telson) 1 buah, yang dilengkapi dengan duri-duri halus yang menyebar di sepanjang ujungnya.
4.    Ekor samping 2 pasang.
5.    Kaki renang (pleopod) 5 pasang terletak di tubuh bagian bawah dekat ekor yang berfungsi sebagai alat berenang.
6.    Kaki jalan (wallung legs) 4 pasang terletak disamping kiri dan kanan tubuhnya.
            Menurut Khairuman dan Amri (2006), tubuh udang teriri atas tiga bagian, yakni cephalothorax abdomen (tubuh), dan uropod (ekor). Cephalothorax merupakan gabungan dari kepala dan dada udang galah. Bagian ini dibungkus oleh kulit keras yang disebut dengan keramas atau cangkang. Bagian depan kepala udang galah terdapat tonjolan karapas yang bergerigi (rostrum). Rostrum digunakan untuk mengidentifikasi jenis udang galah. Kaki renang pada ujung betina agak melebar dan membentuk ruang untuk mengerami telurnya (brood chambers). Uropada berfungsi sebagai pengayah atau yang biasa disebut dengan ekor kipas. 

Otak Udang Beserta Fungsinya



            Menurut Sandema, et.al (1992), ada tiga bagian utama dari otak:
Ø  Proto cerebrum
-    Optik ganglion, berisi tiga neuropils yang dikhususkan untuk memproses informasi yang diterima fotoreseptor retina.
-    Lateral proto serebrum, berisi dua neuropik. Dalam udang karang, kepiting dan lobster berduri yang berduri proto serebrum lateral terletak pada segmen distal.
Ø  Deutro cerebrum
-    Olfactory lobe (ON), dijelaskan di setiap sisi otak ini mengandung daerah sinaptik berbentuk kerucut mengatur pencernaan.
Ø  Titro cerebrum
-    Antena II neuropil (AnN), merupakan posterior lobus aksesori pada lobster,dan dorsal bagian belakang bagian penciuman. Bentuknya runcing memiliki geometris untuk mengatur jalannya akson dari anterior bagian belakang.
-    Tegu mentang neuropil, setiap saraf tegumentang membawa masukan aferen dari dorsal karapas

HABITAT DAN PENYEBARAN UDANG GALAH


              Apabila diperhatikan tingkah laku dan kebiasaan hidupnya fase dewasa udang galah sebagian besar dijalani di dasar perairan tawar dan fase larva bersifat planktonik yang sangat memerlukan air payau. Udang galah mempunyai habiat perairan umum, misalnya rawa, danau, dan sungai yang berhubungan dengan laut sebagai hewan yang bersifat Eurohaline. Mempunyai sifat toleransi tinggi terhadap salinitas yaitu antara 0 – 20 ppt, hal ini berhubungan erat dengan siklus hidupnya.

          Dialam udang galah dapat berpijah didaerah tawar pada jarak lebih dari 100 km dari muara sungai/laut dan membiarkan larvanya ikut terbawa aliran sungai mencapai perairan payau dengan resiko kematian yang tinggi.

            Secara alami penyebaran udang galah meliputi daratan Indopasifik mulai dari bagian timur benua Afrika sampai dengan kepulauan Malaysia termasuk Indonesia, Diperairan Indonesia sendiri udang galah tersebar luas mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan sampai dengan ke Papua.

           Ikut campurnya manusia dalam penyebaran ini telah terlihat dengan ditemukannya udang galah dibenua Amerika dan Australia, sebelumya didaerah tersebut tidak pernah terdapat udang galah alami, Walaupun dengan demikian tidak tertutup kemungkinan adanya cara penyebaran lain selain campur tangan manusia.

http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/08/habitat-dan-penyebaran-udang-galah.html

SISTEM REPRODUKSI UDANG GALAH


                     Udang galah memijah sepanjang tahun, tidak mengenal masa kawin. Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari, meskipun dapat berpijah pada siang hari. Udang galah yang siap pijah dapat dilihat dari gonadnya dengan warna merah orange yang menyebar keseluruh bagian gonad sampai cephalotorax.

Sebelum memijah udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult). Pada saat berganti kulit ini kondisi udang lemah. Setelah pulih kembali terjadi pemijahan. Pemijahan dapat dilakukan di kolam tanah, akuarium, bak beton atau fibreglass dengan padat tebar 4 ekor/m². 

Spermatozoa dari udang galah jantan akan tertampung, Spermatheca menunggu saatnya telur keluar melalui melalui organ tersebut. Pada saat perjalanan telur ke ovarium ketempat pengeraman inilah terjadi pembuahan. Sesuai dengan sifatnya,

Perbandingan jantan dan betina 1:3. Selama pemijahan, induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein 30 %sebanyak 5% per hari dari berat biomassa dengan frekwensi pemberian pakan 4 kali sehari. Pemijahan berlangsung selama 21 hari.

Setelah dilakukan pemijahan dipilih induk dengan telur berwarna abu-abu. Induk tersebut diberi perlakuan dengan larutan Methylene Blue sebanyak 1,5 mg/liter, dengan cara perendaman selama 25 menit.

Bak penetasan yang digunakan berukuran (1x1x0,5) m³ dengan media air payau bersalinitas 3 s/d 5 ppt. Padat penebaran induk 25 ekor per bak. Selama penetasan telur, induk diberi makan berupa ketela rambat, singkong atau kentang yang dipotong kecil-kecil. Hal ini untuk menghindari dampak negatif kualitas air.Pada suhu 28-30°C telur akan menetas dalam waktu 6-12 jam.

http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/08/sistem-reproduksi-udang-galah.html

Fungsi Chemoreseptur pada Udang (Macrobrachium rosenbergii)


                      Chemoreceptor merupakan alat yang digunakan untuk menerima energi dalam jumlah yang sangat kecil dalam bentuk tertentu dan meneruskan sistem informasi tersebut ke sel syaraf. Organ-organ indera memiliki struktur yang khusus tidak hanya pada sel-sel reseptor saja, tetapi ada jaringan yang menunjang dan melindungi sel-sel reseptor dan membantu menentukan arah isyarat serta mengontrol intensitas isyarat yang sampai pada reseptor. Chemoreceptor juga terlihat dalam perburuan mangsa bagi karnivora dan dalam pendeteksian keberadaan mangsanya. Hanya dengan stimulus berupa gas berkonsentrasi rendah, chemoreseptor telah dapat mengenali (Ville et al., 1988).
                       Chemoreseptor merupakan organ indera yang distimulasi oleh berbagai ion atau molekul kimia baik dalam bentuk gas maupun cairan. Meliputi indera penciuman, perasa dan juga reseptor yang memantau konsentrasi oksigen dan karbondioksida. Antennula merupakan salah satu chemoreceptor yang terdapat disekitar mulut udang yang biasanya ditutupi oleh rambut-rambut halus yang berfungsi sebagai alat penciuman (Green, 1967). Chemoreseptor menurut Gordon (1982), berfungsi untuk mendeteksi dan mengetahui adanya makanan, dan tempat hidupnya, mengenal satu sama lain dengan menunjukkan tingkah laku masak kelamin (mating), dan mendeteksi adanya musuh.
                         Praktikum yang dilakukan yaitu dengan memberikan perlakuan yang berbeda pada setiap udang yang akan diuji fungsi kemoreseptornya. Empat perlakuan yang dilakukan, yaitu udang normal (kontrol), udang dengan ablasi mata, udang dengan ablasi antennula, dan udang dengan ablasi total (mata dan antennula) yang diuji fungsi kemoreseptornya selama 15 menit pertama dan 15 menit kedua. Setiap perlakuan yang dikenakan pada udang menghasilkan respon gerak yang berbeda-beda.  Gerakan antennula yang paling banyak yaitu pada udang normal (kontrol).  Hal ini terjadi karena keadaan fisologi udang yang masih sehat (tanpa ablasi). Gerakan antennula yang dihasilkan berupa gerak flicking, wipping, rotation dan withdraw. Perlakuan dengan ablasi total menyebabkan udang menjadi stress, karena kondisi udang yang kehilangan mata dan antennula sebagai organ penting.
                       Menurut Horner et al., (2004), kemampuan untuk mendeteksi dan mengetahui lokasi sumber makanan dengan rangsangan kimia dari jarak jauh, merupakan proses yang penting untuk kehidupan bentik seperti udang. Antennula dibutuhkan untuk mencari lokasi atau tempat sumber makanan.  Setiap antennula tersusun dari 4 segmen dan terbagi pada bagian distal yang bercabang menjadi flagellum lateral dan flagellum medial. Setiap flagellum tersusun dari antennula yang menghubungkan antara chemosensory dan mechanosensory.
Hasil percobaan yang dilakukan, pada perlakuan ablasi mata pada 15 menit pertama terjadi 2 kali gerakan flicking, 6 kali withdraw, 3 kali wipping,dan 2 kali rotasi. 15 menit kedua aktifitasnya yaitu 5 kali flicking, 20 kali withdraw,dan 5 kali wipping. Ablasi antennula dan ablasi total, tidak terjadi gerakan antennula karena antennula telah dipotong. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh (Radiopoetro,1977), bahwa perlakuan ablasi total dan antennula, tidak terjadi gerakan karena organ yang berfungsi sebagai reseptor telah hilang. Udang kontrol, gerakan flicking dan withdraw mendominasi gerak antennula, sedangkan gerakan wipping dan rotasi tidak mendominasi, serta melakukan beberapa kali gerakan mendekati pakan dalam 15 menit pertama dan kedua.
                          Udang yang responsif terhadap pakan adalah udang dengan perlakuan ablasi mata. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Storer (1975), yang menyatakan bahwa antennula pada udang galah (lobster) merupakan struktur sensor yang dapat bergerak untuk mencari perlindungan, makan, dan mencari pasangan serta menghindari predator. Udang yang tidak diberi perlakuan ablasi antennula akan berespon terhadap pakan, karena fungsi dari antennula tersebut akan hilang jika dilakukan ablasi atau pemotongan salah satu organ tertentu. Fungsi dari antennula yaitu menangkap stimulus kimia berupa pheromon dari hewan lawan jenis (Roger, 1978), juga untuk mengetahui posisi tubuh (Ache, 1975).
Mekanisme stimulus (berupa pakan) sampai pada organ kemoreseptor, yaitu makanan yang diberikan ke dalam akuarium akan berdifusi ke dalam air dalam bentuk ion-ion, kemudian ion-ion tersebut akan diterima oleh alat kemoreseptor pada antenula. Implus diporses oleh otak dan menjadi respon serta diteruskan ke organ reseptor melalui neuron efferent. Organ reseptor kemudian melakukan gerakan sesuai informasi otak (Villee et al., 1988).
                  Udang dilengkapi dengan organ yang berfungsi untuk mencari makan.  Udang mempunyai 3 organ reseptor yang utama, yaitu antennula bagian medial dan lateral serta segmen dactylus propondus dari kaki jalan yang secara fisiologis hampir sama. Organ tersebut berfungsi untuk merasa dan membau.  Terdapat 2 pasang kaki jalan yang pertama serta reseptor bagian antennula lateral yang tidak dilengkapi dengan bulu eathethaces mempunyai fungsi dalam orientasi secara kimia.  Bagian antenna dan antennula disekitar mulut udang biasanya ditutupi oleh rambut-rambut halus yang berfungsi sebagai alat penciuman (Devine dan Jelle, 1982).
                          Indera peraba udang sangat penting peranannya dalam berbagai kegiatan, misalnya dalam menemukan makanannya dan menghindari rintangan. Indera peraba terletak di rambut-rambut khusus pada berbagai tempat pada tubuhnya. Indera penglihatan mungkin peranannya sangat kecil karena mata faset hampir tidak berfungsi untuk mengenal bentuk kecuali untuk mengenal sesuatu yang bergerak. Udang tidak bereaksi terhadap gelombang suara. Udang sukar membedakan reaksi pengecap dan bau yang disebut chemoreseptor yang tersebar di seluruh tubuh (Radiopoetro, 1977).
                     Antennula pendek dan antennula panjang adalah struktur gerakan sensoris yang berfungsi untuk menguji dan menerima rangsang dari lingkungan. Rahang bawah yang kuat untuk menghancurkan makanan. Antena tidak memiliki setae chemosensory khusus sedangkan antennula dengan fungsinya yang lebih kompleks memiliki deret-deret setae chemosensory khusus yang berguna untuk mencari jejak sinyal kimia dari makanan lawan jenis dan lingkungannnya (Eckert, 1978). Snow (1973) menyatakan bahwa antennula merupakan alat peraba yang digunakan untuk mendeteksi makanan dan merupakan organ yang paling penting dalam fungsi chemoreseptor pada udang. Sependapat dengan yang disampaikan Penalva-Arana (2009), bahwa kemoreseptor adalah organ vital bagi semua hewan, namun hanya sedikit yang diketahui tentang mekanisme genetik pada organisme akuatik.
                Pearson (1979), menyatakan bahwa cepat lambatnya deteksi pakan dipengaruhi oleh keadaan fisiologi udang, keadaan lingkungan, faktor kimia, tekanan osmosis, dan cahaya.  Mata pada udang tidak berfungsi untuk mengenal bentuk, tetapi untuk mengenal sesuatu yang bergerak (Radiopoetro, 1977). Pakan yang diberikan berpengaruh terhadap cepat lambatnya respon. Semakin banyak pakan semakin cepat molekul kimia pakan berdifusi, sehingga semakin cepat stimulus tersebut direspon udang. Antenula udang sangat sensitif terhadap aroma dari molekul kimiawi yang dikeluarkan pakan. Rangsang yang berupa aroma pakan diterima antenula yang di dalamnya terdapat rambut-rambut sensori yang berfungsi sebagai reseptor. Reseptor akan menerima dan mengirimkan rangsangan melalui urat syaraf dan tanggapan akan diberikan oleh alat tubuh yang disebut efektor (Saktiyono, 1989).
                  Gordon et al., (1977) menyatakan bahwa chemoreseptor berfungsi untuk mendekati dan mengetahui tempat hidupnya. Chemoreseptor juga digunakan untuk mengenal keberadaan sesamanya dan hewan lain, serta menunjukkan tingkah laku matang kelamin. Menurut Green (1967), fungsi chemoreceptor pada udang (crustacea), adalah sebagai berikut : Sebagai indera pembau, berperan dalam mencari dan menemukan makanan, untuk mengetahui posisi tubuh, sebagai media komunikasi antar hewan yaitu menangkap stimulus kimia berupa feromon dari hewan lawan jenis.
                 Gordon (1982), mengatakan bahwa frekuensi flicking dipengaruhi oleh keadaan fisiologis udang seperti, parameter sensori berupa kimia, cahaya osmotik dan rangsangan mekanik. Menurut Pearson (1979), frekuensi flicking, pelecutan dipengaruhi oleh keadaan fisiologis udang seperti parameter sensori berupa kimia, cahaya, osmotik dan tekanan mekanik. Rotasi antennula berupa pergerakan dari bagian proximal ke bagian medial. Antennula mengarah ke sisi yang sama. Pembersihan antennula berfungsi untuk chemoreceptor yang digunakan untuk mendeteksi senyawa kimia.
Gerakan antennula pada udang yang berfungsi sebagai chemosereptor pakan menurut Soeyanto dan Djajadireja (1973) adalah:
  1. Wipping, yaitu gerakan antenula yang bergerak membersihkan
  2. Flicking, yaitu gerakan pelucutan antenula ke arah depan
  3. Withdraw, yaitu gerakan pelucutan antenula ke arah belakang. Gerakan ini terjadi apabila terdapat pakan di belakang tubuh udang.
  4. Rotation, yaitu gerakan antenula yang memutar (rotasi). Gerakan ini terjadi apabila terdapat pakan di atas tubuh udang.
Gerakan udang dalam mencari pakan menurut Harpaz (1987) sebagai berikut:
  • Gerakan mencari pakan dengan diam ditempat
  • Gerakan menuju sasaran
  1. Gerakan melecut antennula dengan cepat dan dilakukan dengan kasar
  2. Gerakan membersihkan dengan menggerakan kearah ventral dan terus bergerak ke bawah (pangkal antennula).
  3. Gerakan melecut antennula dengan menarik antennula ke belakang dan kemudian mengarah ke depan
  4. Gerakan antennula dan antena mengorientasi langsung mengenai sasaran, yaitu sumber chemoatractant.
  5. Gerakan mengangkat chepalothoraks setinggi-tingginya dengan periopodnya. Perlakuan ini dilakukan dengan melecutkan antennula dan meningkatkan frekuensi pelecutannya.
  6. Gerakan menyapu atau menguasai antena, kadang diikuti pergerakan kecil melingkar dari antennula (wipping dan rotation).
  7. Gerakan mencari substrat yang ada di depan dengan chela dan membawa substrat tersebut kemulutnya. Gerakan ini dilakukan saat udang berada dalam keadaan diam.
                    Udang bergerak maju kearah sumber chemoatractant.  Gerakan ini dilakukan dengan berjalan menggunakan periopod ketiga, keempat, dan kelima.  Selama gerakan ini, periode pertama tetap menyapu daerah yang berbeda di depannya dan mengambil bahan-bahan serta membawanya ke mulut. Jalan zig-zag dilakukan dalam gerakan ini.

Manfaat Udang

1. Mencegah Kanker
Setiap 85 gram udang kukus dapat mencukupi 48 persen dari jumlah selenium harian tubuh. Kekurangan selenium telah dikaitkan dengan berbagai jenis kanker termasuk kanker prostat. Di samping mencegah kanker, selenium juga mampu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan infeksi.

2. Menjaga Kesehatan Kulit, Rambut, dan Kuku
Shampoo dan pelembab kulit yang paling mahal sekalipun tidak akan berguna bagi rambut dan kulit anda tanpa asupan protein yang cukup.

3. Mencegah Anemia
Udang mengandung 21 persen vitamin B12, yang merupakan nutrisi penunjang produksi sel darah merah sehingga dapat membantu mencegah penyakit anemia.

4. Meningkatkan Energi
Kelelahan dan merasa lemas, gejala tersebut merupakan indikasi kurangnya kadar zat besi dalam tubuh. Udang sangat kaya kandungan zat besinya. Dengan mengkonsumsi udang, maka asupan zat besi, yang merupakan nutrisi penting dalam pembentukan energi akan terpenuhi.

5. Menguatkan Tulang
Hewan yang termasuk dalam kelas Crustacea ini memiliki kandungan fosfor dalam tubuhnya. Kalsium dan Fosfor adalah dua zat yang akan bekerja sama membentuk tulang dan gigi yang kuat. Dalam mengkonsumsi udang sebaiknya dimakan dengan kulit-kulitnya karena kulitnya mengandung 'glucosamine' yang bermanfaat untuk pembentukan tulang rawan pada persendian tulang.

6. Membantu Memproses Lemak
Niasin (vitamin B3) yang terkandung dalam udang dapat membantu proses lemak, karbohidrat, dan protein menjadi energi untuk tubuh. Niasin juga berfungsi untuk menjaga kesehatan kulit dan mencegah kulit bersisik.

7. Mengurangi Resiko Depresi
Sama seperti ikan, udang juga mengandung asam lemak esensial dan omega-3. Penelitian menunjukkan bahwa omega-3 ini dapat memberikan perlindungan kuat terhadap depresi dan dapat membantu meningkatkan suasana hati untuk mereka yang telah menderita gangguan tersebut.

8. Menyehatkan Saluran Prostat
Asupan zinc atau seng yang dibutuhkan oleh tubuh relatif sedikit yakni 10-15 mg setiap harinya. Dengan mengkonsumsi udang maka kebutuhan tubuh akan zat tersebut akan terpenuhi. Dan dengan terpenuhinya zinc dalam tubuh kita maka pertumbuhan sel kanker prostat akan diperlambat.

9. Menjaga Kesehatan Kelenjar Tiroid
Udang dapat berkontribusi pada kesehatan kelenjar tiroid dengan kandungan lembaga yang dimilikinya. Tiroid yang sehat dapat meningkatkan aktivitas sel dan mengatur metabolisme dalam tubuh dengan baik.

10. Menstabilkan Kadar Gula Dalam Darah
Makanan laut yang enak ini juga merupakan sumber magnesium yang baik. Penelitian terbaru menyatakan bahwa magnesium dapat membantu mencegah berkembangnya diabetes tipe kedua.

http://muhammadagielk.blogspot.com/2013/05/manfaat-udang.html

White Spot Syndrome (WSS) pada Udang


                         Penyakit WSS adalah penyakit yang menyerang pada udang. Penyakit ini disebabkan oleh virus spesies White Spot Syndrome Virus, famili Nimaviridae. Tingkat kematian akibat infeksi virus ini mencapai 100 % dalam waktu 3-19 hari post infeksi. Penyakit ini dikenal dengan nama penyakit bintik putih pada udang. Virus ini bereplikasi di nukleus, berbentuk ellipsoid sampai basil, beramplop dengan ukuran 270-120 nm, memiliki ekor di salah satu kutub partikel virus. Nukleokapsid silindris berukuran 300×65 nm.
Stabilitas virus, agen inaktivasi pada suhu <120 menit pada suhu 500C, dan < 1menit pada suhu 600C. Stabil selama 30 hari pada suhu 300C, pada kondisi air laut dan stabil selama 3-4 hari pada kolam. Faktor predisposisi, rendahnya kadar oksigen dan temperature air, serta pengelolaan pakan yang jelek (Anonim, 2007).
~ Penularan penyakit terjadi hanya melalui perantara karier (pembawa bibit penyakit) berupa udang jambret (Mesopodopsis sp.), udang liar, kepiting, rajungan dan benih udang windu yang ditebar sudah terkontaminasi di pembenihan. Bangkai udang terinfeksi yang dimakan oleh udang sehat dapat mengakibatkan terjadinya penularan virus. Infeksi terutama terjadi pada saat stadium pramolting, sehingga menimbulkan pola bercak pada saat pasca molting karena kerusakan sel ektodermal yang mengakibatkan proses deposisi kalsium menjadi abnormal pada kutikula, kemudian terbentuk lesi putih karena transfer eksudat dari sel epitel ke kutikula melalui kanal pori-pori kutikuler.
~ Organ target dari WSSV pada udang penaeid/ windu adalah jaringan ektodermal (epidermis kutikuler, saluran pencernaan depan dan belakang, insang dan jaringan saraf) dan mesodermal (organ limfoid, glandula antenna, jaringan ikat dan jaringan hematopoietik). Pada infeksi awal, organ yang terkena adalah lambung, insang, kutikula epidermis, dan jaringan ikat hepatopankreas. Pada stadium lanjut, terjadi pelepasan partikel virus dari lesi ke hemolimfe menyebabkan viremia. Infeksi berat terjadi pada organ limfoid, glandula antenna, jaringan otot, jaringan hematopoietik, jantung, lambung, dan saluran pencernaan belakang.
~ Gejala klinis pada fase akut muncul bintik-bintik putih berdiameter 0,5-2 mm pada lapisan dalam eksoskeleton dan epidermis. Gejala lainnya adalah lethargi, tidak mau makan, lemah, berenang ke permukaan dan terjadi diskolorasi kemerahan pada tubuh.
~ Secara patologi klinis terjadi penurunan total hemocyte count (THC) menjadi sekitar 10% dari normal setelah 12-36 jam infeksi (normal: 20,9 + 0,7 x 106 sel/ml). Penurunan ini disebabkan oleh apoptosis hemosit dan jaringan hematopoietik. Apoptosis diinduksi oleh virus untuk membantu penyebaran virus ke sel di sekitarnya. Secara histopatologis ditemukannya inclusion body pada sel, berupa pembengkakan inti sel yang bersifat eosinofilik (berwarna kemerahan) dan inti sel bergerak ke pinggir.
~ Untuk penanganan terhadap penyakit secara langsung hingga saat in tidak ada obat untuk menangani infeksi WSSV karena sistem imun udang yang tidak terorganisir. Namun pencegahan dapat dilakukan dengan menurunkan tingkat stress dan menghindari terbentuknya luka pada kutikula. Selain itu juga dilakukan dengan menurunkan suhu air dalam kolam, karena sintesis protein virus dipengaruhi oleh suhu (Rameshthangam et al., 2011), mengatur kualitas air, pengendalian vektor dan karier, serta klorinasi air 30 ppm .


http://justhanung.wordpress.com/

Infestasi Protozoa pada Udang


                 Udang jugs dapat terinfestasi protozoa. Seperti protozoa epikomensal yang biasanya menyerang udang di saat konsentrasi materi organik terlarut pada air sangat tinggi. Contoh protozoa epikomensal yang dapat menginfestasi insang dan eksoskeleton pada udang adalah Zoothamnium spp., Epistylis spp. dan Vorticella spp. Gejala akibat infestasi protozoa ini dapat berupa hipoksia dan gangguan molting, lokomosi, atau makan, dan berujung pada kematian. Telur udang dapat terinfestasi berat selama inkubasi.
Terdapat pula protozoa yang bersifat parasit pada udanag diantaranya adalah golongan mikrosporidia Ameson (Nosema) spp., Agamasoma (Thelohania) spp. dan Pleistophora spp. Infestasi beberapa protozoa tersebut dapat menyebabkan cotton/milk shrimp disease, karena otot tubuh udang menjadi transparan. Mikrosporidia tidak selalu menyebabkan mortalitas yang tinggi karena pertumbuhannya relatif lambat dibandingkan pertumbuhan udang. Mereka tidak memerlukan hospes intermediet, beberapa ditularkan secara transovari, yang lain menular secara langsung misalnya melalui konsumsi spora.
Menjadi perhatian utama adalah kondisi air dalam beternak udang, karena tidak hanya protozoa yang mudah menyerang udang hingga berujung pada kematian, tetapi masih banyak lain seperti bakteri, virus, dan parasit lain.

Kebutuhan Fosfor udang windu ( Penaeus monodon )

                         Studi tentang kebutuhan unsur makro dalam pakan seperti protein, lemak dan karbohidrat pada berbagai ukuran udang windu telah banyak dilakukan, sedangkan penelitian tentang vitamin dan mineral masih sangat terbatas. Selanjutnya dikatakan bahwa secarakuantitatif kebutuhan mineral pada udang windu belum banyak diketahui sehingga informasi tentang kebutuhannya didasarkan pada jenis udang lainnya seperti P. javonicus.
Secara umum fungsi mineral dalam pakan memegang peranan penting antara lain sebagai unsur pokok dari eksoskeleton, menjaga keseimbangan tekanan osmosa, unsur pokok dalam struktur jaringan, berperan dalam transisi syaraf pusat dan konstruksi otot, sebagai komonen enzim, vitamin, hormone, pigmen, ko-faktor dalam metabolisme, katalisator dan activator enzim.
Salah satu jenis mineral yang paling penting diantara 20 jenis mineral yang diidentifikasi mempunyai peranan dalam tubuh udang adalah mineral fosfor. Secara spesifik mineral fosfor banyak berperan dalam proses metabolic seperti sebagai komponen fosfolipid, asam-asam nukleat, fosfoprotein, senyawa berenergi tinggi (ATP), berperan sebagai metabolisme intermediate dan ko-faktor.
Secara umum fungsi mineral dalam pakan memegang peranan penting antara lain sebagai unsur pokok dari eksoskeleton, menjaga keseimbangan tekanan osmosa, unsur pokok dalam struktur jaringan, berperan dalam transmisi syaraf pusat dan kontraksi otot, sebagai komponen enzim, vitamin, hormone, pigmen, ko-faktor dalam metabolisme, katalisator dan activator enzim.
Salah satu jenis mineral yang paling penting diantara 20 jenis mineral yang diidentifikasi mempunyai peranan dalam tubuh udang windu adalah mineral fosfor, secara spesifik mineral fosfor banyak berperan dalam proses metabolic seperti sebagai komponen fosfolipid, asam-asam nukleat, fosfoprotein, senyawa berenergi tinggi (ATP), berperan dalam metabolisme intermediate dan ko-faktor.
Sebagai bagian penting dari materi biologi, fosfor memainkan peranan utama dalam metabolisme energi dalam sel karena hampir semua metabolisme dalam tubuh (protein, lemak, karbohidrat, mineral dan energi) mempunyai kaitan yang erat dengan fosfor. Keberadan fosfor dalam perairan alami konsentrasinya sangat rendah diperkirakan hanya 0,02 mg/l dan di air payau juga terbatas sehingga perlu ditambahkan dalam pakan.
Pakan murni tanpa penambahan mineral menyebabkan hilangnya nafsu makan ikan rainbow trout, pertumbuhan lambat, mortalitas tinggi, pembentukan tulang yang tidak sempurna. Udang memerlukan mineral tertentu karena eksoskeleton yang banyak mengandung mineral akan hilang selama ganti kulit. Udang windu memerlukan mineral tertentu selama ganti kulit karena selama proses ganti kulit eksoskeleton yang mineral akan hilang.
Fosfor ditambahkan dalam pakan karena jumlah fosfor yang terdapat dalam tubuh udang lebih besar dari fosfor di air laut. Selanjutnya dikatatakan kebutuhan udang akan fosfor dan kalsium lebih tinggi dibanding unsur-unsur lainnya dimana penambahan fosfor yang baik sekitar 2 %. Udang mampu mengabsorpsi mineral langsung dari lingkungan akuatik melalui insang dan permukaan tubuh. Kandungan mineral kalsium di lingkungan air payau cukup tinggi, sedangkan keberadaan fosfor dalam perairan alami sangat rendah sehingga perlu ditambahkan dalam pakan.


http://hewantumbuh.blogspot.com/2011/04/kebutuhan-fosfor-udang-windu-penaeus.html

Pakan Alami Untuk Udang Galah


Pakan alami yang terbaik untuk udang galah adalah Naupli Artemia. Namun kendalanya adalah artemia ini merupakan barang impor yang relative mahal harganya. Bahan yang digunakan berupa telur (Cyst) yang dikemas dalam kaleng. Pengkulturan yang dilakukan adalah dengan cara Decapsulasi cysts yang dimaksudkan untuk  menipiskan lapisan luar cangkang tanpa mempengaruhi embrio hidupnya.
Adapun caranya adalah sebagai berikut :
1.      cysts direndam dalam air tawar selama 1-2 jam
2.      cysts disaring dan dibilas dengan air tawar, kemudian masukkan dalam ember dan tuangkan larutan klorin sedikit demi sedikit sambil diaduk. Jaga suhu dibawah 40ºC
3.      Saring dan bilas dengan air tawar sampai bersih
4.      ulangi sampai terjadi perubahan warna cysts dari coklat menjadi orange tergantunng dari produk cystsnya. Proses dekapsulasi tersebut memakan waktu antara 5-15 menit.
5.      Setelah terjadi perubahan warna, segera disaring dan bilas dengan air tawar sampai bersih dan tidak ada bau klorin.
6.      peras cysts tersebut sampai kering dan masukkan ke kantong plastic untuk disimpan pada suhu dingin selama maksimal 1 minggu.
Cara Pemberian Pakan Artemi
 Larva udang diberi pakan naupli artemia setelah pergantian air (sifon) pada pagi hari. Pada saat pergantian air dan tinggal 25% bagian naupli artemia diberikan kepada larva. Kondisi seperti itu dibiarkan selama ±½ jam untuk memberi kesempatan kepada larva menangkap naupli. Setelah selesai, aerasi dihidupkan kembali.

Macrobranchium White Tail Disease (Penyakit Ekor Putih Pada Udang Galah)



Posted by ReTRo
Macrobranchium White Tail Disease (Penyakit Ekor Putih Pada Udang Galah)



Penyebab : Macrobrachium rosenbergii nodavirus (MrNV) dan extra small virus (XSV)



Bio – Ekologi Patogen :

• Inang penyakit sangat species spesifik yaitu udang galah (Macrobrachium rosenbergii)

• Keganasan: tinggi, dalam tempo 2-3 hari mematikan 100% populasi di perbenihan.

• Melalui infeksi buatan pada PL, gejala klinis dan mortalitas yang terjadi sama dengan infeksi alamiah; sedangkan pada udang dewasa, bagian sepalotorak lembek diikuti munculnya struktur dua kantung yang menggembung berisi cairan di kanan-kiri hepatopancreas.

• Gejala klinis yang sama, menyerupai branchiostegite blister disease (BBD) yang diikuti dengan kematian dilaporkan terjadi pada kolam pembesaran udang galah.

• Distribusi: India dan Asia Tenggara (Thailand).



Gejala Klinis

• Lemah, anorexia dan memutih pada otot abdominal pada PL.

• Kondisi tersebut secara bertahap meluas ke dua sisi sehingga mengakibatkan degenerasi telson dan uropod.

• Warna keputihan pada ekor merupakan gejala klinis yang definitif, sehingga disebut penyakit ekor putih.

• Warna kehitaman (melanisasi) akan mengembang ke 2 sisi (anterior & posterior) dan menunjukkan degenerasi dari telson dan uropod



Diagnosa :

• Polymerase Chain Reaction (PCR)

• In situ hybridization



Pengendalian



• Tindakan karantina terhadap calon induk dan larva udang galah yang baru

• Hanya menggunakan induk dan benih yang bebas MrNV dan XSV.

• Menjaga status kesehatan udang agar selalu prima melalui pemberian pakan yang tepat jumlah dan mute

• Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang



sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010   
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates